Tampilkan postingan dengan label Geogre McTurnan Kahin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geogre McTurnan Kahin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Mei 2010

M Natsir Menteri dengan Jas Bertambal : Catatan 102 Tahun Mohammad Natsir

Natsir membiasakan keluarganya hidup bersahaja. Dia sendiri memberikan teladan.

Dari balik lemari yang menjadi sekat ruang tamu, Sitti Muchliesah bersama empat adik dan sepupunya mencuri dengar pembicaraan ayahnya, Mohammad Natsir, dengan seorang tamu dari Medan. Hati remaja-remaja itu berbunga ketika mendengar si tamu hendak menyumbangkan mobil buat ayah mereka.

Lies–panggilan Sitti–me­nyang­­­­ka mobil Chevrolet Impala­ yang sudah terparkir di depan rumahnya di Jalan Jawa 28 (kini Jalan H.O.S. Cokroaminoto), Jakar­ta Pusat, itu akan menjadi milik­ keluarganya. Sedan besar­ buatan Amerika ini tergolong ”wah” pada 1956. Saat itu Natsir, yang pernah menjadi Menteri Penerangan dan Perdana Menteri, hanya punya mobil pribadi bermerek DeSoto yang sudah kusam.

Aba—demikian anak-anaknya memanggil Natsir—ketika itu masih anggota parlemen dan memimpin Fraksi Masyumi. ”Dia ingin membantu Aba karena mobil yang ada kurang memadai,” kata putri tertua Natsir yang saat itu baru masuk usia 20 tahun.

Harapan anak-anak naik mobil Impala buyar saat ayah mereka menolak tawaran dengan amat halus agar tidak menyinggung perasaan tamunya. ”Mobil itu bukan hak kita. Lagi pula yang ada masih cukup,” Lies menirukan ucapan ayahnya ketika mereka bertanya.

Nasihat itu begitu membekas di hati Lies, kini 72 tahun. Aba dan Ummi Nurnahar—ibunda Lies—selalu berpesan kepada anak-anaknya, ”Cukupkan yang ada. Jangan cari yang tiada. Pandai-pandailah mensyukuri nikmat.”

Ketika sang ayah menjadi Menteri Penerangan pada awal 1946, Lies mengenang mereka tinggal seadanya di rumah milik sahabat Natsir, Prawoto Mangkusasmito, di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sewaktu pusat pemerintah pindah ke Yogyakarta, keluarga Natsir menumpang di paviliun milik Haji Agus Salim di Jalan Gereja Theresia, sekarang Jalan H Agus Salim.

Periode menumpang di rumah orang baru berakhir ketika mereka menempati rumah di Jalan Jawa pada akhir 1946. Rumah tanpa perabotan ini dibeli pemerintah dari seorang saudagar Arab dan kemudian diserahkan untuk Menteri Penerangan. ”Kami mengisi rumah itu dengan perabot bekas,” kata Lies.

Selama menjadi menteri, Natsir jarang bertemu dengan keluarga karena lebih banyak berdinas di Yogyakarta. Di sana pula dia pertama berjumpa dengan guru besar dari Universitas Cornell, George McTurnan Kahin. ”Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan ia seorang menteri dalam pemerintahan,” tulis Kahin dalam buku memperingati 70 tahun Mohammad Natsir.

Dia melihat sendiri Natsir mengenakan jas bertambal. Kemejanya hanya dua setel dan sudah butut. Kahin, yang mendapat info dari Haji Agus Salim me­ngenai sosok Natsir, belakangan tahu bahwa staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang membelikan pakaian supaya bos mereka terlihat pantas sebagai seorang menteri.

Penampilan Natsir tidak berubah saat menjadi Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia pada Agustus 1950. Keluarga Natsir menempati rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur (sekarang Tugu Proklamasi), Jakarta Pusat. Rumah di Jalan Jawa yang sempit dan kusam di­nilai tidak layak buat pemimpin pemerintah. Rumah di Jalan Proklamasi itu lengkap dengan perabot­an sehingga Natsir dan keluarganya hanya membawa koper berisi pakaian dari Jalan Jawa.

Pada masa ini kehidupan keluarga Natsir sudah dibatasi protokoler. Rumah dijaga polisi dan sang Perdana Menteri selalu didampingi pengawal. ­Pemerintah juga menyediakan pembantu yang membenahi rumah, tukang cuci dan masak, serta tukang kebun. ”Semua fasilitas tidak membuat kami manja dan besar kepala,” ujar Lies.

Putri tertua Natsir yang saat itu duduk di kelas II sekolah me­nengah pertama tersebut tetap naik sepeda ke sekolah karena jarak­nya dekat. Adik-adiknya antar-jemput dengan mobil DeSoto yang dibeli dari uang sendiri. Ibunya masih melanjutkan belanja ke pasar dan kadang masak sendiri. Lies mengatakan keluarganya tidak pernah memanfaatkan fasilitas pemerintah, misalnya perjalanan dinas.

Contoh lain kejujuran Natsir selama menjadi pejabat negara didengar pula oleh Amien Rais, bekas Ketua Umum Muhammadiyah. Ketika masih mahasiswa, ia mendengar cerita Khusni Muis yang pernah menjadi Ketua Muhammadiyah Kalimantan Selatan.

Syahdan, Khusni menuturkan, ia pernah datang ke Jakarta untuk urusan partai (saat itu Muhammadiyah merupakan anggota istimewa Masyumi). Ketika hendak pulang ke Banjarmasin, ia mampir ke rumah Natsir. Tujuannya meminjam uang untuk ongkos pulang. Tapi Natsir menjawab tidak punya uang karena belum gajian. Natsir lalu meminjam uang dari kas majalah Hikmah yang ia pimpin. ”Bayangkan, Perdana Menteri tidak memegang uang. Kalau sekarang, tidak masuk akal,” ujar Amien.

Tatkala Natsir mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri pada Maret 1951, sekretarisnya, Maria Ulfa, menyodorkan catatan sisa dana taktis. Sal­donya lumayan banyak. Maria mengatakan dana itu menjadi hak perdana menteri. Tapi Natsir menggeleng. Dana itu akhirnya dilimpahkan ke koperasi karyawan tanpa sepeser pun mampir ke kantong pemiliknya.

Dia juga pernah meninggalkan mobil dinasnya di Istana Presiden. Setelah itu, ia pulang berboncengan sepeda dengan sopirnya. Keluarganya pindah lagi ke rumah di Jalan Jawa setelah Natsir turun dari jabatan perdana menteri. ”Kami kembali ke kehidupan semula,” kata Lies.

Pola hidup sederhana itu pula yang membuat anak-anak Natsir mampu bertahan saat suratan takdir mengubah hidup mereka dari kelompok ”anak Menteng” menjadi ”anak hutan” di Sumatera ketika meletus pemberontakan Pemerintahan Revolusio­ner Republik Indonesia/Perju­angan Rakyat Semesta.

Setelah periode hidup di hutan dan Natsir mendekam dari satu penjara ke penjara yang lain selama 1960-1966, keluarga mereka kehilangan rumah di Jalan Jawa, termasuk mobil DeSoto. Harta itu diambil alih seorang kerabat seorang pejabat pemerintah.

Mereka menjalani ”kehidupan nomaden,” terus berpindah kontrakan, dari paviliun di Jalan Surabaya sampai rumah petak di Jalan Juana, di belakang Jalan Blora, Jakarta Pusat. Rumah itu cuma terdiri atas satu kamar tidur, ruang tamu kecil, dan ruang makan merangkap dapur.

Setelah Natsir bebas dari Rumah Tahanan Militer Keagung­an Jakarta pada 1966, ia membeli rumah milik kawannya, Bahartah, di Jalan Jawa 46 (sekarang Jalan H. O.S. Cokroaminoto), Jakarta Pusat. Rumah itu sebetulnya dijual dengan ”harga teman”, tapi Natsir tetap tidak mempu­nyai uang. Alhasil, ia harus mengais pinjaman dari sejumlah kawan dan dicicil selama bertahun-tahun.

Teladan kesederhanaan tetap ia tunjukkan saat memimpin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia pada masa Orde Baru. Bekas Menteri-Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, yang ketika itu pernah menjadi anggota staf Natsir, menuturkan betapa bosnya acap ke kantor mengenakan kemeja itu-itu saja. Kalau tidak baju putih yang di bagian kantongnya ada noda bekas tinta, kemeja lain adalah batik berwarna biru.

Saat ulang tahun ke-80, Natsir memberikan wasiat kepada anak-anaknya supaya menjaga rumah keluarga di Jalan Cokro­aminoto 46 dan buku-buku karyanya. Lima tahun kemudian ia menutup mata selamanya. Setahun sepeninggalnya, kelima anaknya, Lies, Asma Faridah, Hasnah Faizah, Aisyahtul Asriah, dan Fauzie Natsir, sepakat menjual rumah peninggalan almarhum: mereka tidak sanggup membayar pajaknya.

Sumber : Laporan Utama Majalah Tempo Edisi 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

Jumat, 22 Mei 2009

Kesederhanaan Seorang Mohammad Natsir (Tamat)

Mohammad Natsir adalah orang yang besar dan sulit mencari bandingnya di masa sekarang. Ini diakui banyak orang, di antaranya Prof. Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi menyatakan, ”Saat ini sulit mencari tokoh yang bisa kita sebandingkan dengan Natsir. Natsir bukan pengusaha, bukan orang kaya. M.Natsir tiga kali menjadi menteri penerangan dan sekali menjadi perdana menteri, bukan untuk mencari uang atau memperkaya diri.”

George McTurman Kahin, salah seorang Amerika yang kenal dengan Natsir sempat terheran-heran dengan kesederhanaan seorang Natsir, hingga baju yang dikenakannya saat menjabat sebagai Menteri adalah baju yang penuh dengan tambalan. Dan di saat masa jabatannya habis, Natsir meninggalkan kantor kementriannya pulang menuju rumah dengan mengayuh sepeda. Mobil dinasnya langsung diserahkan saat itu juga kepada negara.

Selama menjabat sebagai menteri penerangan tiga kali, dan juga menjabat sebagai perdana menteri, kehidupan keluarga Natsir tidaklah banyak berubah. Rumahnya tetap sederhana dan pintunya terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahim. Sikap seorang Natsir ini sangat bertolak-belakang dengan orang-orang yang sekarang mengaku tokoh umat, yang setelah menjadi pejabat negara atau pejabat partai bisa mendadak kaya raya, padahal mereka tidak punya usaha lain selain pejabat partai. Dan bukan rahasia umum lagi jika kerjaan partai politik, apa pun ideologinya, tidak jauh-jauh dari jual-beli suara umat, sehingga rakyat banyak menganggap bahwa para elit partai politik sesungguhnya tidak beda dengan para pedagang, yang menjadikan suara umat atau suara rakyat sebagai barang dagangan dengan memberikan janji-janji manis saat pemilu, dan secepatnya melupakan semua itu ketika sudah berkuasa. Natsir jelas bukan tokoh umat yang seperti ini.

Salah satu peristiwa yang menunjukkan kebesaran seorang Natsir adalah saat pertemuan antara Prabowo yang telah menjadi seorang perwira dengan Mohammad Natsir. Saat iklim politik Indonesia sejak tahun 1988 telah mulai kondusif bagi dakwah Islam. Suatu hari, Prabowo, yang saat itu masih menantu Presiden Suharto, diiring sejumlah perwira Muslim hendak bersilaturahim ke kediaman Natsir di Jalan HOS. Cokroaminoto, Jakarta. Natsir yang telah tua menunggu di dalam kamarnya. Sebelum masuk ke dalam rumah, Prabowo Subianto menyempatkan diri untuk melolosi arloji dan cincin emasnya, lalu dititipkan ke ajudannya. Hal ini dilakukan Prabowo karena dia tahu jika Natsir adalah seseorang yang sangat memegang erat kesederhanaan, dan Prabowo pun sangat menghormatinya.

Apa yang dilakukan Natsir sungguh beda dengan kelakuan sebagian orang-orang yang mengklaim sebagai pemimpin umat, yang lebih sering mendatangi rumah penguasa ketimbang berjalan menyusuri pasar becek menyapa kaum mustadh’afin. Natsir tidak punya istana, namun orang-orang istana sering mendatanginya. Bukan sebaliknya.

Tauhid Yang Benar

Salah seorang sahabat dekat Natsir adalah (alm) Hussein Umar. Suatu hari tokoh Pelajar Islam Indonesia (PII) ini menegaskan kepada penulis jika salah satu pilar yang sangat dipegang Muhammad Natsir adalah keistiqomahan dalam dakwah. Bang Hussein, demikian sebutannya, berkata, “Dakwah itu merupakan sebuah proses yang panjang. Sebab itu sama sekali tidak perlu adanya sikap tergesa-gesa ingin menikmati hasil. Semua perlu proses dan kesabaran. Jangan kita bisa dijebak lagi, karena ingin cepat-cepat menuai hasil, lalu masuk dalam skenario yang justru akan menghancurkan gerakan dakwah itu sendiri.”

Bang Hussein juga mengulangi pesan Natsir kepadanya, “Umat Islam itu diwajibkan berusaha dengan sebaik mungkin, dibatasi oleh kaidah-kaidah syariat, akidah, dan keimanan. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT, karena Allah-lah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Manusia wajib berusaha, sedangkan hasilnya Allah SWT yang menentukan.”

Hal inilah yang melandasi sikap perjuangan Natsir. Walau secara pribadi dia kenal dan berteman dengan para politikus dari PKI maupun dari partai-partai Kristen, namun di dalam perjuangan politiknya, Natsir tidak pernah memberikan loyalitasnya, walau sedikit pun, kepada mereka. Natsir sangat paham jika hal tersebut, wala wal baro, termasuk dalam pilar-pilar ketauhidan. Hal ini dibuktikan dengan Partai Masyumi yang tidak pernah sekali pun mengangkat calegnya dari kalangan non-Muslim. Sangat beda dan jauh dengan yang ada sekarang.

Sikap Natsir terhadap misi pemurtadan yang dilakukan Gereja sungguh jelas. Dalam satu artikel yang ditulis Natsir (1938), yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”, Natsir membuka dengan tulisan: ”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.” Hal ini dilakukan Natsir untuk menyikapi hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam, 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia.

Menanggapi rencana pemurtadan tersebut, Natsir menghimbau umat Islam agar, ”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan kongres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara adzan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Pandji Islam, ed. 33-34). Natsir tidak pernah memberi loyalitas perjuangan umat Muslim ini kepada kaum kuffar dengan alasan Islam itu rahmatan lil’alamin.

Terhadap usaha-usaha pemurtadan yang dilancarkan musuh-musuh Islam, Natsir sangat tegas dan tidak kenal takut maupun kompromistis. Sekarang ini, hanya ormas-ormas Islam seperti FPI-lah yang mengikuti jejak Pak Natsir dalam membela Islam dari rongrongan kaum salib maupun kaum liberalis. Sedangkan “tokoh-tokoh Islam” yang sudah keenakan duduk di kursi empuk di DPR maupun DPRD, mereka lebih memilih diam seribu bahasa, lebih memilih aman, ketimbang membela Islam. Bagi orang-orang seperti ini, belanja di Singapura bahkan sampai ke Paris, kongkow di hotel internasional, semuanya jauh lebih nikmat, dan sebab itu harus dipertahankan terus sepanjang hayat dikandung badan, ketimbang ikut berpanas-panas ria di tengah terik matahari di jalanan seperti halnya yang dilakukan para pembela Islam.

Sekarang, sangat sulit mencari sosok pejuang Islam seperti Mohammad Natsir. Sosok seperti ini sekarang hanya bisa ditemukan di masjid-masjid kampung dan di pesantren-pesantren pedalaman. Manusia besar ini berpulang kerahmatullah pada 5 Februari 1993 di Jakarta, meninggalkan berjuta hikmah dan kisah.

Sumber :
http://www.ahmadsumargono.net/konten.php?nama=Artikel&op=detail_artikel&id=63

Iklan dari, oleh dan untuk Blogger