Tampilkan postingan dengan label Kartosoewirjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kartosoewirjo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juni 2010

M Natsir Seorang Besar dengan Banyak Teman : Catatan 102 Tahun Mohammad Natsir

Natsir dipuji sebagai pendengar yang sabar. Hidupnya tak pernah sepi dari kawan dengan berbagai sifat dan aliran politiknya.

Pada 1978, saat Mohammad Natsir berumur 70 tahun, Mohammad Roem mengkhawatirkan kesehatan karibnya itu. ”Andainya ia mau mengurangi tamunya, tentu kesehatannya akan lebih baik,” tulis Roem, kawan seperjuangan Natsir, dalam buku Mohammad Natsir, 70 Tahun, Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan (Pustaka Antara, 1970). Jika Natsir sakit—kata Roem mengutip keterangan Nurnahar, istri Natsir—pasti karena terlalu banyak menerima tamu. Meski kerap berbaring dan tak kuat bangun karena kehabisan tenaga melayani tamu, Natsir tak pernah menolak orang yang datang.

Natsir, kata Roem, punya satu sifat langka yang dirindu orang. Jika ada orang bercerita—entah berupa pendapat entah kisah sedih—Natsir bisa mendengarkannya dengan penuh perhatian. Seolah ia ikut merasakannya. Orang kerap merasa lega bercerita kepadanya, meski soal yang diceritakan itu tak ada jalan keluarnya. Begitu pula jika Natsir bercerita atau berpendapat, ia akan mengisahkannya dengan segala perasaan dan emosi yang ada. ”Kawan-kawan menjadi meyakini apa yang Natsir ceritakan. Mereka bersedia membantu Natsir dan mengikutinya,” tulis Roem dalam tulisan ”Kelemahan atau Kebesaran Natsir”.

Sikap penuh pengertian dan mau mendengar pendapat orang berasal dari endapan pengalaman hidup Natsir. Pria asal Alahan Panjang, Sumatera Barat, tersebut menempuh jalan yang sukar dalam hidupnya sebagai anak peng­hulu kecil. Barangkali juga dilatari wataknya sebagai guru. Selain itu, seperti kerap diceritakan Natsir kepada kawan-kawannya, semua itu adalah buah perjumpaan yang mengesankan dengan guru-guru batinnya.

Natsir bercerita pernah dibikin terharu oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto, tokoh Sarekat ­Islam. Natsir bertemu dengan pria gagah berkumis lebat itu di Stasiun Bandung ketika Tjokro­ me­ngunjungi cabang-cabang Sa­rekat Islam. Satu hal yang mencuri perhatian Natsir adalah veldbed (tempat tidur yang bisa dilipat) yang ditenteng pria berjuluk ”Raja Jawa tanpa Mahko­ta” itu. Selepas berkenalan, Natsir memberanikan diri bertanya­ mengapa Tjokroaminoto selalu­ membawa veldbed. ”Saya tidak­ mau jadi beban orang yang saya datangi. Saya bisa nginap di mana pun dengan ini. Di masjid atau di mana pun,” kata Tjokro, seperti ditirukan Natsir.

Kisah lainnya adalah perka­wanannya dengan A. Hassan, seorang ustad yang dikenalnya semasa bersekolah dan mengambil diploma guru di Bandung. Ustad asal Singapura itu berdagang buku-buku Islam dan membuka percetakan. Setiap kali mengun­jungi A. Hassan, Natsir selalu menjumpai pria itu sedang bekerja. Entah sedang menyusun huruf di percetakan, mengoreksi, entah tengah menulis tafsir. Tapi sang ustad selalu menghentikan pekerjaannya setiap kali Natsir datang.

”Teruskan kerja Tuan dulu. Jangan terganggu oleh saya. Tidak ada yang penting-penting,” kata Natsir berdalih tak enak mengganggu kerja A. Hassan. Tapi A. Hassan selalu ”melayani” Natsir, seolah percakapannya dengan pemuda tanggung itu lebih penting ketimbang bekerja. Natsir pun mengakui percakapan dan tukar pikiran yang dilakukannya dengan A. Hassan sangat mempengaruhi jiwa dan arah hidupnya kelak.

Cara Natsir memandang kekuasaan pun sangat bersahaja. Pegawai Kota Praja Bandung ini (saat penjajahan Jepang) mengaku ”dijerumuskan” Kahar Muzakkar, seorang kawan dekatnya, ke pentas pergolakan nasional.

Ceritanya amat sepele. Menjelang proklamasi, Natsir datang dan menginap di rumah Kahar Muzakkar di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Sang kawan kemudian mengajaknya jalan-jalan ke Pasar Baru selepas makan malam. ”Ikut saja, kita pergi bersama,” kata Kahar santai. Kahar baru saja ditunjuk menjadi anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) oleh Bung Karno dan Bung Hatta serta malam itu ada rapat badan cikal bakal parlemen itu di Gedung Komidi (sekarang Gedung Kesenian Jakarta), Pasar Baru. Natsir yang bukan anggota KNI sebenarnya memilih menunggu di luar saja, tapi Kahar mendorongnya dari belakang. ”Ini Saudara Mohammad Natsir,” ujar Kahar kepada penjaga.

Penjaga pintu gedung yang mencatat nama-nama orang yang hadir ternyata salah dengar. Ia menulis nama Mohammad Natsir dalam daftar anggota KNI. Maka jadilah Natsir anggota KNI, yang diterimanya tanpa keberatan. Kelak, sehari setelah proklamasi, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menunjuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai badan pembantu presiden dan wakil presiden. Natsir sendiri kemudian ditunjuk menjadi satu dari tiga anggota—bersama Dr Sarwono dan Sudarsono—menjadi Badan Pekerja KNIP pada 30 Oktober 1945. Pada permulaan 1946, mantan Ketua Jong Islamieten Bond cabang Bandung ini pun diangkat menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Sjahrir.

Dengan segala tempaan di ma­sa lalunya itulah Natsir berhasil menjadi ketua terlama Partai­ Masyumi (1949-1958). Partai Islam ini juga berhasil diantar­­kan­nya memenangi posisi kedua dalam pemilihan umum 1955. Sebagai orang yang tak pernah mengenyam bangku perguruan­ tinggi, prestasi Natsir sungguh luar biasa. Apalagi, seperti diungkapkan Yusril Ihza Mahendra—salah satu anak didik Natsir—partai berlambang bulan bin­tang ­itu penuh orang yang berbeda alir­an dan karakter politik.

Masyumi saat itu adalah biduk yang memuat orang Islam dari banyak kalangan: ada abangan, sarjana didikan Belanda, sampai santri Nahdlatul Ulama. ”Selain intensitas dalam pandangan-pandangan ideologi. Juga ada faktor etnis,” kata Bachtiar Effendi, peneliti Masyumi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Ke­ragaman ini membuat biduk Mas­yumi oleng ke kiri dan kanan. Semasa Natsir, misalnya, Partai Masyumi bekerja sama dengan Partai Sosialis Indonesia. Tapi tidak pernah bisa akur dengan Partai Nasional Indonesia. Namun, saat kendali partai dipegang Sukiman—karena Natsir naik gunung bersama Pemerintahan Re­volusioner Republik Indonesia di Sumatera—Masyumi justru akrab dengan Partai Nasional.

Menurut Yusril, elite Masyumi­ berasal dari alumni Jong Islaminten Bond dan Islamic Studie Club. Sebagian mereka juga pernah mendirikan Partij Sarekat Islam Indonesia pada zaman Belanda. Ciri utama mereka adalah didikan sekolah Belanda dan tertarik pada Islam. Sebagian besar mereka adalah kaum Islam Jawa, seperti Mohammad Roem dan Sukiman. Ada juga yang mulanya condong ke kiri, seperti Sjafroeddin Prawiranegara. Pa­da masa awal kemerdekaan, Masyumi ju­ga nyaris terbelah akibat perbedaan sikap menanggapi perundingan Roem-­Royen. Natsir bahkan menjadi salah satu pengkritik keras Mohammad Roem karena menjadi juru run­ding dalam perjanjian Roem-Royen.

Tokoh macam Mohammad Roem, Kasman ­Singodimedjo, Prawoto Mangku­sas­mito, Abu Hanifah atau Mahmud Latjuba (kakek Sofia Latjuba) lebih banyak memakai istilah-istilah Belanda ketimbang Arab. Dalam soal gaya hidup, beberapa karib Natsir itu merayakan pesta jarig (ulang tahun). Ada pula Moh. Roem yang memiliki hobi berkuda. Dalam soal ini, Natsir memi­lih moderat. Ia cuma tersenyum bila mendengar cerita pesta koleganya. ”Tidak mudah me-­manage partai saat itu,” Yusril menjelaskan.

Di awal merdeka memang terlihat Natsir memilih mendahulukan kepentingan negara ketimbang partai atau dirinya sendiri. Ketika pemerintah Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta, Natsir dan Soekarno sempat berhubungan dekat.

Mohammad Chudori, 83 tahun, mantan wartawan Antara, yang saat itu menjadi anggota Laskar Hizbullah, menjadi saksi sulitnya posisi Natsir. Pada 1949, karena merasa terancam lantar­an ajak­an baiat Kartosoewirjo se­bagai Tentara Islam Indonesia, Chudori memerlukan nasihat Natsir. Tapi apa daya, Natsir menyerahkan keputusan itu kepada dirinya. ”Itu terserah pada pilihan Bung sendiri. Saya tidak bisa menentukan,” kata Natsir.

Namun sejarah mencatat, Natsir akhirnya memilih berhadap­an dengan Kartosoe­wirjo, yang juga pendiri Masyumi tersebut. ”Partai Masyumi hendak mencapai maksudnya dengan jalan demokratis parlementer, melalui jalan sesuai Undang-Undang Dasar… dan tidak dengan jalan kekerasan,” tulis Natsir—saat itu sudah menja­di perdana menteri—dalam Peng­umuman Sikap Dewan Pimpinan Masyumi atas Pemberontakan Darul Islam, Januari 1951. Natsir sendiri pernah melobi Kartosoewirjo agar menyerah melalui bantuan A. Hassan. Sayang, tidak berhasil. Kartosoewirjo pun akhirnya tertangkap 4 Juni 1962 dan dihukum mati pada Agustus tahun itu juga.

Di usia tuanya, ketika memimpin Dewan Dakwah Islamiyah, Natsir makin dicintai. Suatu hari pada 1984, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Amien Rais (saat itu aktivis Muhammadiyah) menum­pang mengetik di DDI untuk menyiapkan bahan seminar di Islamabad. ”Mien, sudah jam satu, makan dulu,” kata Natsir kepada Amien sembari lewat. Sejam kemudian, Natsir kembali lewat. ”Ini sudah hampir jam dua, makan dulu,” kata Natsir mengingatkan. Amien mengaku sangat terharu mendapat perhatian Natsir. ”Beliau orang besar, sikapnya kepada anak muda membuat saya tersentuh,” kata Amien Rais mengenang.

Natsir memang telah membuktikan mampu berkawan dengan siapa saja.

Sumber : Laporan Utama Majalah Tempo Edisi 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

Senin, 03 Mei 2010

Pesan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo “Kalau Aku Mati, Ikuti Natsir…”

Berbagai cara dilakukan Natsir untuk melunakkan hati Kartosoewirjo. Kendati gagal, Kartosoewirjo tetap menghormatinya.

DI lereng Gunung Rakutak, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo meng­akhiri perlawanannya. Ketika gelap mulai merayapi punggung Rakutak, 3 Juni 1962, bersama seorang anak buahnya, Dodo Muhammad Darda, sang imam Negara Islam Indonesia, ”angkat tangan”. Ia menyerah kepada pa­sukan Batalion 328 Kujang yang dipimpin Letnan Dua Suhanda.

Tiada perlawanan. Ketika ditangkap, pria 57 tahun itu tergolek lemah di dalam gubuk akibat luka di kakinya yang makin parah. Ki Dongkol, keris pusakanya, masih terselip di pinggang. Pasukan Suhanda terpaksa memakai tandu membawa Kartosoewirjo turun gunung.

Setelah tiga belas tahun berge­rilya melawan pemerintah, Kartosoewirjo dan pasukannya memang makin terpojok. Cadangan logistik yang terus menipis membuat mereka terpaksa makan daun-daunan. Mental pasukan makin jatuh ketika, dalam pertempuran di Desa Cipaku, Ciparay, sekitar lima kilometer dari Cicalengka, sebulan sebelum penangkapan itu, kaki sang imam kena tembak.

Sejak itu, satu per satu pendukung utama Tentara Islam Indonesia, demikian nama pasu­kan­ Kartosoewirjo, meletakkan senjata atawa tertangkap. Pada akhir Mei 1962, misalnya, Adah Djaelani Tirtapradja, salah satu Panglima Tentara Islam, menye­rahkan diri. Langkah Adah itu menyusul jejak Toha Machfoed dan Danoe Moehammad Hasan. Dengan menyerahnya tiga pimpinan pasukan itu, tinggal Agus Abdullah pendukung Kartosoewirjo yang masih bertahan. Pasukan Agus terus bergerilya di sekitar Gunung Ciremai, Ku­-ning­an, Jawa Barat.

Selepas fajar, pada 5 September 1962, sang imam diangkut kapal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari pangkalan Tanjung Priok menuju salah satu pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu. Di sana sudah menanti satu regu tembak. Sebelumnya, Mahkamah Militer sudah menjatuhkan vonis hukuman mati untuk Kartosoewirjo. Pagi itu, ujar Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu sang imam, kepada Tempo, ayahnya dieksekusi. Bersama perginya sang imam, berakhirlah pula Darul Islam.

BIBIT perlawanan Kartosoewirjo bersemai ketika perjanjian dengan Belanda di atas kapal perang USS Renville milik Amerika Serikat yang sedang berlabuh di Teluk Jakarta ditandatangani Perdana Menteri Amir Syarifuddin pada 17 Januari 1948. Salah satu butir kesepakatan Renville, penetapan garis Van Mook sebagai batas wilayah Indonesia dengan Belanda. Konsekuensinya, semua tentara Indonesia harus keluar dari wilayah Jawa Barat yang dikuasai Belanda.

Kartosoewirjo termasuk yang kecewa akan Perjanjian Renville. Ia merasa ditinggalkan pemerintah. Bersama pasukan Sabilillah dan Hizbullah, Kartosoewirjo menolak mengikuti jejak Divisi Siliwangi mundur ke Jawa Tengah. Dia bertekad tetap bertahan di Jawa Barat serta terus melawan Belanda.

Sebagai persiapan, pada 10 Februari 1948 Kartosoewirjo mengumpulkan ratusan pemimpin Islam se-Jawa Barat di Desa Pang­wedusan, Cisayong, Tasikmalaya. Selain menuntut pembatalan Perjanjian Renville dan membekukan Partai Masyumi, pertemuan itu menyepakati membentuk Tentara Islam Indonesia untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Tentara Nasional Indonesia.

Melihat kondisi ini, ­Perdana Menteri Mohammad ­Hatta menunjuk Muhammad Natsir sebagai penghubung pemerintah—yang saat itu berdomisili di Yogyakarta—dengan Kartosoewirjo. Hatta menganggap Natsir cukup mengenal Kartosoewirjo. Selain sama-sama orang Masyumi, Natsir dan Kartosoewirjo memang beberapa kali pernah berjumpa di rumah salah satu guru Natsir, A. Hassan, tokoh Persatuan Islam, di Bandung.

Natsir, dalam wawancara dengan Tempo pada Desember 1989, menggambarkan hubungan Kartosoewirjo dengan pemerintah saat itu masih lumayan mesra. Berulang kali Kartosoewirjo datang ke Yogyakarta minta bantuan makanan atau dana bagi pasukannya. ”Bung Hatta memberikan bantuan supaya Kartosoewirjo bisa mendinginkan hati orang-orang Jawa Barat yang merasa ditinggalkan Republik,” kata Natsir.

Baku tembak antara pasukan Tentara Islam dan Tentara Nasional Indonesia pertama kali terjadi pada 25 Januari 1949 di Kampung Antralina, Ciawi, Tasikmalaya. Paling tidak ada dua versi cerita mengenai penyebab ”pertempuran Antralina” itu. Masing-masing pihak mengklaim mereka diserang lawan. Sejak itu, bara permusuhan Tentara Islam dan Tentara Nasional Indonesia terus menyala.

Bagi kelompok Kartosoewirjo, kekosongan kekuasaan di Jawa Barat juga berarti peluang mendirikan Negara Islam. Lewat beberapa kurir, niat mendirikan negara Islam itu disampaikan Kartosoewirjo ke beberapa pengurus besar Masyumi di Yogyakarta, antara lain Anwar Tjokroaminoto, A.M. Soebakin, dan Abikoesno Tjokrosoejoso. Dalam surat itu, Kartosoewirjo juga mengundang tokoh-tokoh Masyumi datang ke Jawa Barat untuk membahas bentoek dan langkah perdjoeangan oemmat pada dewasa ini.

Puncaknya, pada 7 Agustus 1949, di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Kartosoewirjo mendeklarasikan Negara Islam Indonesia. Tanggal itu dipilih bertepatan dengan keberangkatan Hatta ke Den Haag, Belanda, untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar. ”Proklamasi. Kami, Oemmat Islam Bangsa Indonesia. MENJATAKAN: Berdirinja ”NEGARA ISLAM INDONESIA”. Maka hoekoem jang berlakoe atas Negara Islam Indonesia itoe, ialah: HOEKOEM ISLAM. Imam NEGARA ISLAM INDONESIA S.M. Kartosoewirjo.”

BERBAGAI upaya dilakukan pemerintah untuk menghentikan niat Kartosoewirjo memisahkan diri dan mendeklarasikan Negara Islam Indonesia, atau Darul Islam. Sebelum berangkat, Hatta sudah berpesan kepada Natsir agar berbicara dengan Kartosoewirjo untuk menutup segala sengketa.

Ketika itu, 4 Agustus, Natsir menginap di Hotel Homann, Bandung. Dia menulis pesan di selembar kertas hotel, dan kemudian meminta tolong A. Hassan menyampaikannya ke Kartosoewirjo. Namun, apa daya, surat itu sampai ke tangan Kartosoewirjo tiga hari setelah proklamasi Darul Islam. ”Yah, terlambat. Itu namanya takdir Tuhan,” kata Natsir, 19 tahun lalu.

Menurut Natsir, Kartosoewirjo memang dijaga ketat para peng­awalnya. Tak sembarang orang bisa bertemu. A. Hassan pun sempat diminta menunggu hingga beberapa hari. Namun, kalaupun tiba tepat waktu, kata Natsir, itu pun tak mudah menggeser sikap Kartosoewirjo. ”Bagi dia, yang berat itu menjilat ludah sendiri,” kata Natsir.

Bendera Darul Islam memang sudah telanjur dikibarkan di Jawa Barat, dan pasukan Kartosoewirjo terus bergerilya. Kendati demikian, hubungan Natsir dengan Kartosoewirjo tetap ter­sambung. Selama bergerilya, paling tidak dua kali Kartosoewirjo mengirim surat rahasia kepada Presiden Soekarno, yang ditembuskan kepada Natsir.

Surat pertama dikirim pada 22 Oktober 1950, berisi pujian sang imam atas keputusan pemerintah menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut dia, kebijakan itu menunjukkan sikap pemerintah telah bergeser dari politik netral menjadi politik antikomunis. Di surat berikutnya, enam bulan kemudian, Kartosoewirjo menjanjikan dukungan untuk pemerintah melawan komunisme. ”Republik Indonesia akan mempunyai sahabat sehi­dup semati,” katanya. Namun, ia memberikan syarat: pemerintah harus mengakui Darul Islam.

Usaha Natsir melunakkan hati sang imam dan pengikutnya tak pernah berhenti. Pada Juni 1950, dia mengutus Wali Alfatah, teman lama Kartosoewirjo, menemui sang imam. Namun Kartosoewirjo menolak bertemu. Sang imam menyatakan, dia hanya bersedia menerima pejabat tinggi Indonesia, bukan utusannya.

Pada akhirnya, memang bukan Natsir yang berhasil menaklukkan sang imam, melainkan peluru yang menembus dadanya. Walau demikian, menurut penuturan salah seorang bekas anak buah Kartosoewirjo, seperti dikatakan Sardjono Kartosoewirjo, ayahnya tetap menaruh hormat kepada Natsir. Bahkan Kartosoewirjo berwasiat kepada pengikutnya: ”Kalau aku nanti mati, kalian ikuti Pak Natsir.”

Sumber : Laporan Utama Majalah Tempo Edisi 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

Iklan dari, oleh dan untuk Blogger