Tampilkan postingan dengan label Tokoh Masyumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Masyumi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Januari 2010

KH. Muhammad Isa Anshary, Singa Podium Pendiri Front Anti Komunis yang Istiqomah dalam pergerakan dakwah hingga tutup usia

Beliau dijuluki "Singa Podium". Sebuah julukan yang sangat beralasan demikian karena kefasihan kemampuan berorasi mampu mengobarkan semangat setiap orang yang mendengarnya. Pemuda yang bertubuh pendek, gemuk dengan bahu yang agak bungkuk ini lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 1 Juli 1916. Di usianya yang masih remaja, Isa Anshary telah terjun ke dunia politik. Di kota kelahirannya itu ia sudah menjadi kader PSII dan aktif sebagai mubaligh Muhammadiyah. Seperti halnya para pemuda lainnya, Isa Anshary merantau ke pulau Jawa dan menetap di kota Bandung. Di kota Kembang inilah ia bertemu dengan Soekarno.

Selain dikenal sebagai pemuda yang taat beragama, aktivitas politiknya makin menggebu-gebu. Di usianya yang muda, ia telah memimpin beberapa organisasi, yaitu Ketua Persatuan Muslimin Indonesia Bandung, Pemimpin Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia Bandung, Sekretaris Partai Islam Indonesia Bandung serta ikut mendirikan Muhammadiyah cabang Bandung. Dalam pergerakan itu, ia bergabung dengan kelompok pemuda yang disebut-sebut radikal, seperti M. Natsir. Aktivitasnya di Persis yang sempat dipimpinnya beberapa periode seakan-akan semakin tersemai subur. Ia juga menjadi anggota Indonesia Berparlemen, Sekretaris Umum Komite Pembela Islam dan pemimpin redaksi majalah Daulah Islamyah.

Satu hal yang mencolok dari tokoh yang pernah menjadi pembantu tetap Pelita Andalas dan Perbincangan ini adalah sikapnya yang tegas. Ia sering dinilai tidak bersikap kompromistis. Tidak mengherankan kalau Herbert Feith menyebutnya dengan figur politisi fundamentalis yang memiliki keyakinan teguh. Oleh karena itu, pada zaman Jepang, ia telah mengomandoi gerakan Anti Fasis (Geraf), Biro Penerangan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) Priangan, memimpin Angkatan Muda Indonesia dan mengorganisasi Majelis Islam yang membentuk kader-kader Islam. KH. Muhammad Isa Anshary adalah salah satu pilar yang membangun Persis. Pada tahun 1935-1960 ia sempat menjadi ketua umumnya. Selama memimpin Persis, perannya sangat menonjol. Ia selalu memberikan arahan dan warna bagi organisasi itu. Pidatonya selalu bergelora membuat pandangan yang mendengarkan selalu tertuju kepadanya. Bukan sekali dua kali ia ditegur oleh aparat keamanan karena “garangnya” pidato yang ia sampaikan. Dalam hal tulis menulis analisisnya cukup tajam. Di antaranya hasil karyanya adalah Bahaya Merah Indonesia (1956), Barat dan Timur (1948), Islam Menentang Komunisme (1956), Tuntunan Puasa (1940), Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953), dan lain-lain.

Dalam kancah politik, Masyumi menjadi ladangnya. Bagi para ulama kritis , berpolitik merupakan bagian tuntutan agama. Mereka selalu meneriakkan kebenaran walaupun pahit dirasakan. Bagi mereka, berpolitik adalah alat untuk mencapai cita-cita umat Islam. Di bawah bendera Masyumi, ia semakin memperkuat posisinya sebagai politisi. Tahun 1949, ia memimpin sebuah kongres Gerakan Muslimin Indonesia. Keterlibatan KH. Muhammad Isa Anshary dalam pentas politik membuat dia harus menghadapi resiko yang tidak kecil. Ketika terjadi razia terhadap orang-orang yang diisukan ingin membunuh presiden dan wakil presiden pada bulan Agustus 1951 oleh PM Sukiman Wirdjosandjoyo, KH. Muhammad Isa Anshary ditangkap. Namun beberapa saat kemudian ia dilepaskan dan dinyatakan tidak bersalah. Sepak terjangnya di bidang politik sempat menyedot perhatian massa. Di mana ia memberikan pidato, pasti dipenuhi massa yang ingin mendengarkan suaranya. Biasanya massa yang hadir bukan hanya partisipan Masyumi, tapi juga masyarakat umum.

Pada masa Soekarno, Masyumi menjadi salah satu lawan politik pemerintah yang terus digencet. Saat tragedi Permesta meledak (1958), banyak tokoh-tokoh yang diciduk. Termasuk KH. Muhammad Isa Anshary yang saat itu berada di Madiun bersama Prawotomangkusasmito, M. Roem, M. Yunan Nasution dan EZ. Muttaqien serta beberapa tokoh lainnya.

Pada masa demokrasi parlementer, muncul beberapa konflik antar kelompok. Ada yang menginginkan Indonesia berideologi sekuler-nasionalis dengan dasar negara Pancasila. Di sisi lain ada yang menginginkan terbentuknya negara Islam, atau paling tidak negara yang berideologikan hukum-hukum Islam. Di tubuh Masyumi, cita-cita untuk membangun Negara Islam sangat subur. KH. Muhammad Isa Anshary tetap menjadi juru bicara yang ulet bagi Masyumi. Namun sayang, keinginan mereka untuk mewujudkan Negara Islam gagal. Ketidakberhasilan ini disebabkan beberapa hal, di antaranya munculnya polarisasi mengenai bentuk dan konsep negara Islam itu sendiri.

Ada yang berpendapat bahwa aturan dan ajaran Islam harus terwujud lebih dahulu yang nantinya dengan sendiri akan terbentuk negara Islam. KH. Muhammad Isa Anshariytermasuk dalam kelompok ini. Di sisi lain ada yang berpendapat bahwa negara Islam harus di bentuk dahulu, baru kemudian diberi corak dan warna Islam. Di Luar itu, muncul kelompok yang lebih keras lagi. Maka meledaklah peristiwa DII/TII di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh serta gerakan Ibnu Hajar di Kalimantan. Gerakan-gerakan itu dapat dipadamkan oleh Soekarno.

Pada era berikutnya, KH. Muhammad Isa Anshary terus berkecimpung dalam membangun umat. Di usianya yang kian lanjut, ia lebih banyak mengkader generasi muda. Ia tidak lagi menjadi pemimpin di organisasi yang membesarkannya, tapi cukup sebagai penasehat. Begitulah contoh seorang pemimpin yang mengetahui keadaannya. Kendati demikian ia tetap saja mendapat halangan. Ia sempat dijebloskan ke dalam penjara oleh Soekarno. Dari balik terali besi ia masih sempat mengirimkan tulisan-tulisan ke para sahabatnya.

KH. Muhammad Isa Anshary tidak mengenal lelah. Menjelang akhir akhir hayatnya ia tetap bekerja untuk umatnya. Pada 11 Desember 1969 atau sehari setelah Hari Raya Idul Fitri 1369 H ia meninggal dunia, di RS Muhammadiyah Bandung. Sehari sebelumnya ia menyatakan bersedia memberikan khutbah Idul Fitri, namun takdir berkehendak lain. Naskah khutbah itu sempat diketiknya dua halaman, dan tak sempat terbacakan....


Sumber :
KH. Isa Anshari (1916-1969) : "Sang Singa Podium", Front Anti Komunis Indonesia, Faki Admin, http://antikomunis.freehostia.com/index.php?topic=23.msg33;topicseen#msg33

Jumat, 15 Mei 2009

Kesederhanaan Seorang Mohammad Natsir (3)

Sejak muda api Islam telah membakar seluruh semangat hidupnya.

Dengan tegas Natsir berkata, “Pilihlah salah satu dari dua jalan: Islam atau Atheis!” Ketika di parlemen Indonesia di masa kemerdekaan, Natsir mengulangi sikap tegasnya ini tanpa sedikit pun malu atau risih, berbeda jauh dengan tokoh-tokoh Islam di masa kini yang sedapat mungkin berusaha menghindari pengucapan kata “Islam” atau bahkan ada yang sampai hati menyatakan jika perjuangan politik Islam sudah ketinggalan zaman dan bagian masa lalu.

Walau tengah duduk di pusat pemerintahan, sikap M. Natsir tidak pernah berubah: sangat tegas jika menyangkut akidah, namun lembut dalam hal hubungan sesama manusia. Terhadap para misionaris Kristen yang di masanya sangat gencar dan terang-terangan ingin memurtadkan umat Islam, Natsir dengan berani menentangnya. Juga ketika Soekarno dan para yes-man di sekitarnya menyatakan jika kemerdekaan Indonesia disebabkan oleh semangat nasionalisme, Natsir menolak keras dan menandaskan jika Islam-lah titik-tolak, penyebab, dari kemerdekaan dan kedaulaan Indonesia.

Sejarawan Islam Ahmad Mansyur Suryanegara menyatakan, “Rakyat Indonesia melawan penjajah dengan semangat jihad, teriakan mereka “Allahu Akbar!”, bukan yang lain.”

Ketika Soekarno sudah bersekutu dengan PKI, Natsir tanpa ragu melawannya walau itu berarti keselamatan jiwa dan karir politiknya terancam, Natsir sama sekali tidak perduli. Hidup bagi Natsir, dan ini harusnya juga bagi umat Islam lainnya, adalah berjuang di jalan dakwah untuk meninggikan kalimat Allah SWT, apa pun resikonya.

Dalam hal ini, lawan-lawan politik Natsir dan kaum Islamophobia sering mengungkit keikutsertaan Natsir dalam PRRI yang melawan kekuasaan Soekarno. Terkait hal tersebut, di masa tuanya, Natsir pernah menuturkan, ”PRRI itu gerakan perlawanan terhadap Soekarno yang sudah sangat dipengaruhi PKI. Melihatnya tentu harus dari perspektif masa itu. Ini masalah zaman saya. Biarkanlah itu berlalu menjadi sejarah bahwa kami tidak pernah mendiamkan sebuah kezaliman.”

Di arena Sidang, Natsir mampu berdebat dengan amat keras dengan lawan-lawan politiknya, tapi setelah itu mereka bisa makan-minum semeja di kantin dan mengobrol dengan akrab.

“Saya sebagai tokoh Masyumi biasa minum teh bersama-sama tokoh-tokoh PKI,” akunya. “Jadi kita memusatkan diri kepada masalah, bukan kepada person”, tambah Natsir. Bahkan menurutnya beberapa masalah penting bisa diselesaikan melalui pertemuan informal seperti itu.

Islam Sebagai Pedoman Pribadi dan Negara

Dalam berbagai ceramah, Natsir berkata, “Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual muslim yang sempit, tapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara. Islam menentang kezaliman manusia terhadap saudaranya. karena itu, kaum muslimin harus berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan. Islam menyetujui prinsip-prinsip negara yang benar.

Karena itu, kaum muslimin harus mengelola negara yang merdeka berdasarkan nilai-nilai Islam. Tujuan ini tidak terwujud jika kaum muslimin tidak punya keberanian berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diserukan Islam. Mereka juga harus serius membentuk kader dari kalangan pemuda muslim yang terpelajar.”

Seorang M. Natsir sangat menekankan pendidikan yang benar terhadap umat Islam, agar umat Islam memiliki akidah yang benar, bersih, dan lurus, yang bertauhid, yang hanya menyerahkan wala’ atau loyalitasnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, hanya kepada kitab suci Al-Qur’an dan Hadits, bukan kepada yang lain. Jika para pemuda Islam telah memiliki akidah yang lurus seperti itu, tauhid yang murni, maka perjuangan mereka juga akan lurus dan bersih, tidak mencla-mencle, tidak plintat-plintut, tidak mengutak-atik syariat yang ada demi kepentingan duniawi sesaat. Itu tergambar dalam buku yang ia tulis yaitu : Fiqh Da'wah.

Dalam pidatonya di depan Sidang Majlis Konstituante, 13 November 1957, M. Natsir berkata, ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka… Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikemanusiaan itu?” Natsir menjawabnya sendiri, “Islam-lah sumber segala kehidupan dan keteraturan di dunia ini.”

Apa yang ditegaskan Natsir dahulu, di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini sama sekali tidak diperhatikan oleh mereka yang mengklaim sebagai “tokoh-tokoh Islam”, baik yang duduk di parlemen, di partai politik, maupun di kabinet. Malah sebagian tokoh-tokoh itu malah mulai teracuni oleh pemikiran-pemikiran sekuler dengan menempatkan pluralitas—dengan konsekuensi juga paham pluralismenya—berada di atas dan menempatkan perintah Allah SWT di bawahnya.

Bahkan untuk membohongi suara hati nuraninya sendiri, untuk menipu fitrah kemanusiaannya sendiri, ada yang memakai dalil jika Islam adalah “Rahmatan lil’alamin”. Maka tanpa malu sedikit pun mereka mulai memberikan loyalitasnya kepada kaum kufar, seolah mereka tidak pernah mendapat materi pengajian Wala wal Barra.

Padahal tidak pernah sekali pun Rasulullah SAW memberikan loyalitasnya kepada kaum kuffar. Keluarga merupakan bentuk paling kecil dari pemerintahan, bukankah Islam mengatakan bahwa pernikahan otomatis batal jika seorang perempuan Muslim ternyata menikah dengan lelaki kafir?. Demikian juga dalam kehidupan bernegara.

Sebab pangkalnya adalah masalah pembinaan atau pendidikan. Dalam wawancara dengan Jurnal Inovasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY, 1987), Natsir yang waktu itu telah berusia 79 tahun mengutarakan ada tiga unsur yaitu, masjid, pesantren, dan kampus, yang apabila dipertemukan, niscaya akan menjadi modal utama pembinaan umat maupun pembangunan bangsa dan negara, entah di bidang ekonomi, pendidikan, budaya dan sebagainya.

Sayangnya, sekarang ini tiga pilar kekuatan umat tersebut ditinggalkan dan digantikan dengan tiga pilar lainnya: hotel, hotel dan hotel. Sebab itu tidaklah mengherankan jika ada segelintir “tokoh Islam” yang tidak malu-malu lagi melarang umat Islam untuk menghadiri kajian ilmu di sebuah masjid di Jakarta, namun menggelar dangdutan di tempat lain.

Andai saja Natsir di zaman sekarang masih hidup dan melihat semua ini, maka bukan mustahil beliau akan berkata, “Ulangilah syahadat kalian!” Seperti yang biasa dikatakan oleh sahabat Natsir, Kasman Singodimedjo, ketika melihat ada yang tidak beres dalam tokoh-tokoh umat Islam.

Iklan dari, oleh dan untuk Blogger