Tampilkan postingan dengan label maninjau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maninjau. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juni 2010

M Natsir, Lelaki dari lembah Gumanti : Catatan 102 Tahun Mohammad Natsir

Masa kecil Mohammad Natsir dihabiskan di berbagai tempat. Mulai dari Alahan Panjang, Maninjau, Solok, hingga Padang. Tempo mengunjungi beberapa tempat di antaranya.

FOTO itu usang sudah: warnanya pudar dan ­ker­tasnya tak lagi mulus.­ Namun, hari itu, 3 Februari 1993, mendapatkan foto tersebut, Mohammad Natsir gembira bukan main.

Sambil berbaring, matanya tak lepas foto dengan gambar rumah beratap joglo dengan halaman yang luas itu. Tak jauh dari rumah tersebut terdapat sungai jernih dengan jembatan kayu jati berukir di atasnya.

Saat itu, Mohammad Natsir­ tengah terkulai lemah di sebu­ah ruang di Rumah Sakit Cipto Ma­ngunkusumo, Jakarta. Natsir­ me­minta Hamdi El Gumanti, kini 60 tahun, salah seorang peng­urus Dewan Dakwah Islamiyah Jakarta, mencarikan foto-foto semasa kecilnya di Alahan Panjang, Sumatera Barat.

Kota sejuk itu sangat istimewa bagi Natsir. Di sanalah, seabad silam dia lahir dan menghabiskan masa kecilnya, sebelum berpindah-pindah tempat tinggal.

Mendapatkan permintaan itu, Hamdi terbang ke Alahan Panjang. ”Saya kaget. Sebelumnya Pak Natsir tidak pernah seperti itu,” katanya mengenang. Setelah membongkar berbagai album, akhirnya dia menemukan foto yang diinginkan Natsir. Segera dia kembali ke Jakarta. Syukurlah, dia tidak terlambat. Tiga hari setelah melihat-lihat foto itu, Natsir pun berpulang.

Semasa hidupnya, Natsir selalu rindu mengunjungi tempat masa kecilnya. Namun, karena kesibukan, keinginan itu tak pernah kesampaian. Pada 1970-an, dia pernah berencana mene­ngok kampung bersama Syahrul Kamal, salah satu kolega. ”Namun Syahrul Kamal keburu meninggal,” kata Hamdi, yang juga masih­ terhitung kemenakan Syahrul.

Pada 1991, keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat masa kecilnya kembali mencuat. Ketika itu Natsir memang tengah berkunjung ke Padang dan Bukittinggi, untuk meresmikan gedung Islamic Center. Rencananya, selepas acara itu, Natsir mampir ke Alahan Panjang, Solok, dan Maninjau. Tapi rencana tinggal rencana. Mungkin karena terlalu bersemangat, ketika meresmikan Islamic Center, Natsir naik gedung hingga ke lantai empat. Sakit jantungnya kumat. Akhirnya, Natsir hanya sempat ke Solok. ”Di sana, Bapak menunjuk beberapa tempat yang sempat diingatnya,” kata kata Aisyah Rahim Natsir, anak kelima Natsir. Akhirnya, hanya kertas lusuh itu yang menjadi alat Natsir bernostalgia.

ALAHAN Panjang, yang dulu dikenal dengan nama Lembah Gumanti, adalah dataran tinggi yang subur. Kebun kopi, sayur-mayur, dan persawahan terhampar di sana.

Udaranya pun sejuk akibat se­ring disiram hujan karena terletak di kaki Gunung Talang. Danau kembar, yakni Danau Diatas dan Danau Dibawah, yang terdapat di kota itu membuat pemandangan Alahan Panjang rancak di mata. Di kota ini me­ngalir pula sungai Batang Hiliran Gumanti.

Sungai itu tak bisa dipisahkan dengan hidup Natsir. Di sebuah rumah di tepi su­ngai itulah Mohammad Natsir dilahirkan pada 15 Juli 1908. Muhammad Idris Sutan Saripado, ayah Natsir, yang saat itu juru tulis, tinggal bersama di rumah Sutan Rajo Ameh, saudagar kopi yang kaya-raya.

”Mungkin karena kakek saya bersahabat dengan ayah Pak Natsir sehingga mereka diajak tinggal di rumah itu,” kata Hamdi, cucu Sutan Rajo Ameh.

Rumah itu besar dan berha­laman luas. Di sisi kirinya meng­alir Batang Hi­liran Gumanti, yang mengalir dari Danau Diatas. Oleh pemiliknya, keluarga Sutan Rajo Ameh, rumah dibagi dua: ia dan keluarganya tinggal di bagian kiri, sisanya ditem­pati Muhammad Idrus Saripado, istri dan anaknya.

Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui kehidupan Natsir semasa di sana. Maklum, orang-orang yang satu generasi dengan Natsir sudah tidak ada. Selain itu, Natsir memang tidak lama tinggal di Alahan Panjang: sebelum dia masuk Holland Inlander School (HIS) atau sekolah rakyat, dia pindah ke Maninjau.

Satu-satunya orang yang me­ngenal Natsir kecil adalah Hamdi. Itu pun berdasarkan cerita Siti Zahara, neneknya. ”Semasa kanak-kanak Natsir orangnya lugu, jujur, dan sudah kelihatan akan jadi pemimpin,” kata Hamdi menirukan ucapan Zahara. Selain itu, masih mengutip ucapan Zahara, Natsir juga suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga. ”Dia kerap merapikan kamar tidur dan suka membantu mencuci piring.”

Seperti umumnya anak lelaki Minang pada masa itu, Natsir kecil juga kerap pergi ke surau, yang tak jauh dari rumahnya, untuk mengaji. Surau itu bernama Surau Dagang, didirikan para pedagang dari nagari-nagari di sekitar Alahan Panjang. Dalam buku biografi memperi­ngati ulang tahunnya yang ke-70, dikisahkan ketika kanak-kanak, hampir setiap malam, Natsir memilih tidur di surau berselimut kain sarung.

Masa kecil Natsir dihabiskan di berbagai tempat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai kolonial Belanda. Setelah dari Alahan Panjang, Natsir sempat tinggal di Maninjau dan bersekolah hingga kelas dua. Kemudian pindah ke Padang, untuk bersekolah di HIS Adabiyah. Tak lama berselang, dia pindah ke Solok. Dan ketika sang ayah pindah ke Makassar, Natsir kembali ke Padang tinggal bersama kakaknya. Di sana dia menamatkan pendidikan dasarnya sebelum akhirnya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onder­wijs (MULO) di Bandung.

Kini, Alahan Panjang tidak banyak berubah. Lembah Gumanti masih berhawa sejuk. Ladang sayuran dan kebun kopi masih terhampar luas. Namun tempat kelahiran Natsir agak berubah. Dihajar bom Belanda dalam agresi militer, rumah dibangun kembali pada 1957. Kini rumah yang dihuni seorang kerabat itu lebih kecil dari ukuran sebelumnya.

Di samping kiri rumah masih mengalir Batang Hiliran Gumanti dengan airnya yang jernih. Jembatan masih ada namun sudah diganti beton. Meski demikian, nama jalan di depan rumah itu tetap Jembatan Berukir. Nama Natsir juga diabadikan sebagai nama salah satu pesantren selain juga nama perpustakaan yang menyimpan buku-buku karyanya.

Sumber : Laporan Utama Majalah Tempo Edisi. 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

Selasa, 04 Mei 2010

Sikap Optimis Anak Juru Tulis : Catatan 102 Tahun Mohammad Natsir

Natsir sempat ditolak masuk sekolah dasar Belanda. Tak bayar iuran, ia pernah belajar kucing-kucingan.

SETIAP kali menatap bangunan kukuh berdin­ding batu di Kota Padang itu, hati remaja itu selalu bergetar. Di gedung sekolah Belanda, Holland Inlander School (HIS) Padang, itulah ia pernah memendam kecewa: sebagai anak juru tulis, ia pernah ditolak belajar di sana.

Itulah sekolah dambaan M. Natsir sejak kecil. Tapi pemerintah Belanda hanya menerima anak pegawai negeri dan anak saudagar kaya.

Pada usia 7-8 tahun, sekolah­ Natsir sempat tak menentu. Saat itu ayahnya, Mohammad Idris Sutan Saripado, pindah kerja dari Bonjol ke Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Natsir ikut ayahnya ke sana.

Di Maninjau ia belajar di sekolah rakyat berbahasa Indonesia, yang di Jawa dikenal dengan sekolah Ongko Loro. Itu pun tak resmi. ”Saya belajar, tapi tak ba­yar uang sekolah dan tidak terdaftar sebagai murid,” kata Natsir suatu ketika. Karena itu, ia sekolah sembunyi-sembunyi: jika­ inspektur sekolah datang, oleh guru kelas Natsir diminta bersembunyi—menyingkir atau pulang duluan. Jika inspektur itu sudah pergi, ia boleh balik lagi.

Belakangan Natsir mendengar beberapa tokoh pergerakan mendirikan sekolah HIS partikelir di Padang untuk menampung bumiputra yang tidak diterima di sekolah pemerintah. Namanya Adabyah. Kegiatan belajar­nya sore hari. Tak sementereng HIS, sekolah ini hanya berdinding kayu dan beratap rumbia.

Tapi di sini pun Natsir hanya bertahan beberapa bulan. Ayahnya yang dipindahkan ke Alahan Panjang membuatnya ­harus pindah sekolah lagi. Tapi kali ini Natsir sekolah di kelas II HIS Solok. Untuk itu, ia dititipkan di rumah Haji Musa, seorang saudagar. Di tempat inilah Natsir belajar bahasa Arab dan mengaji fikih. Dalam uji coba sekolah di HIS, Natsir muda berhasil mengikuti pelajaran dengan baik bahkan melampaui prestasi kawan-kawan kelasnya.

Tak lama Natsir di Solok, ayahnya kembali pindah, kali ini ke Makassar. Adapun Natsir tetap tinggal di rumah Haji Musa. Keluarga ini memperlakukan Natsir seperti keluarga sendiri. Di rumah, Natsir terbiasa bangun pagi untuk membersihkan rumah dan memompa air.

Siang di HIS, sore hari Natsir belajar di madrasah, dan malam mengaji Al-Quran. Tiga tahun ia tinggal di rumah itu. Di sekolah Diniyah kelas III ia terpilih menjadi guru bantu untuk kelas I. Untuk itu, ia dibayar Rp 10.

Tapi tak lama di Solok, kakak Natsir, Uni Rabiah, memintanya kem­bali ke Padang. Di ibu kota Sumatera Barat itu ia diterima di kelas V HIS. Sekolah yang empat­ tahun lalu pernah menolaknya kemudian membuka tangan.­ Ter­bayar sudah kesumat Natsir muda.

Di Padang, Natsir tinggal di sebuah gudang bersama pamannya, Macik Rahim, yang bekerja memilah kopi di sebuah pabrik di dekat lapangan Skipdi, di pinggiran pantai Padang. Tapi Natsir mengaku jiwanya lebih bebas jika dibanding saat tinggal menumpang di Solok. ”Karena terbebas dari tekanan perasaan berutang budi,” tulis Natsir suatu ketika.

Hidup di Padang adalah ujian berat bagi Natsir kecil. Ia harus mengurus keperluan hidupnya sendiri. Pada usia 11 tahun, ia mencuci dan memasak sendiri makanannya.

Beban hidupnya di Padang agak ringan setelah kakak perempu­annya, Uni Rabiah, bisa menyusul. Mereka kemudian tinggal di dekat Pasar Gadang, Pulau Air Palinggam.

Setelah lulus HIS, Natsir mendengar sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pa­dang—setingkat sekolah mene­ngah pertama—memberikan beasiswa. Syaratnya: siswa harus mendapat nilai bagus dalam uji coba selama tiga-enam bulan.

Natsir yang terbiasa bekerja keras ikut serta. Bersyukur ra­pornya bagus dan ia mendapatkan beasiswa Rp 20 per bulan. Uang itu digunakannya untuk menolong kakak perempuannya dan membeli buku.

Di MULO Natsir belajar bermain biola. Ia juga aktif di kepanduan organisasi Pemuda Islam, Jong Islamiten Bond. Di MULO Natsir untuk pertama kalinya duduk berdampingan dengan murid-murid Belanda.

Di Jong Islamiten Bond inilah Natsir mengenal Nur Nahar, murid perempuan yang saat itu aktif dalam Jibda—organisasi wanita Jong Islamiten Bond. Kelak Nur Nahar menjadi istri yang mendampinginya hingga akhir hayat.

Sumber :
Dendam Anak Juru Tulis, Laporan Utama Majalah Tempo Edisi 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008

Rabu, 16 Juli 2008

Menyusuri Jejak Masa Kecil Mohammad Natsir, Bapak Pergerakan Islam Modern

NATSIR menatap selembar foto hitam-putih itu lekat-lekat dan lama, selembar foto yang menggambarkan sebuah rumah beratap limas dengan halaman yang luas, dengan sungai yang jernih mengalir di sampingnya dan jembatan kayu jati yang berukir di atasnya.

Seolah ingin mengenang masa kecil dalam foto itu nun jauh di Lembah Gumanti yang permai di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, dari atas tempat tidurnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, Natsir lama menatap foto itu.

Ini diceritakan Hamdi El Gumanti, 60 tahun, salah seorang pengurus Dewan Dakwah Islamiyah di Jakarta semasa itu. Hamdi juga cucu Sutan Rajo Ameh di Alahan Panjang, pemilik rumah tempat Natsir dilahirkan.

"Seminggu sebelum wafat Pak Natsir memaggil saya dan meminta saya tolong carikan foto rumah masa kecilnya di Alahan Panjang, saya kaget, sebelumnya Pak Natsir tidak pernah seperti itu," kata Hamdi.

Hamdi bergegas berangkat dari Jakarta ke Alahan Panjang dan membongkar album yang ada di rumah Jembatan Berukuir. Foto yang diinginkan Natsir ketemu dan ia segera terbang ke Jakarta memberikan foto itu pada Natsir. Tiga hari kemudian, 6 Februari 1993, Natsir meninggal.

Di masa tuanya, Natsir memang beberapa kali pernah ingin bernostalgia masa kecilnya di Sumatera Barat, tetapi tidak pernah kesampaian.

Menurut Hamdi, di Jakarta pada tahun 70-an, Natsir pernah dekat dengan pamannya Hamdi yang bernama Syahrul Kamal. Mereka bersepakat akan akan pulang kampung ke Alahan Panjang, tapi batal karena Syahrul Kamal keburu meninggal.

Pada 1991, saat berkunjung ke Padang dan Bukittinggi Natsir juga sempat ingin bernostalgia mengunjungi tempat-tempat masa kecilnya seperti di Alahan Panjang, Solok, dan Maninjau, namun itu juga batal. Hal ini diceritakan Aisyah Rahim Natsir, putri Natsir yang kelima.

"Saat itu saking bersemangatnya Bapak meresmikan Islamic Center di Padang, naik tangga sampai ke lantai 4, lalu jantungan, akhirnya nggak jadi, padahal Bapak sepertinya ingin bernostalgia, ia mengatakan pada kakak saya ingin ke Alahan Panjang, Solok dan ke Danau Maninjau, ke Maninjau saja tidak sempat, Bbapak hanya sempat lewat di Solok, dan Bapak menunjuk di dekat jembatan Solok itu dulu sekolah," kata Aisyah.

Natsir dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang. Daerah yang dikenal dengan Lembah Gumanti itu adalah dataran tinggi yang subur dengan kebun-kebun kopi dan kebun sayur, serta sawah yang luas. Berhawa dingin dan kerap hujan karena berada di Gunung Talang.

Di Alahan Panjang ini pemandangan alam amat indah, selain perkebunan yang subur, juga dilingkupi dua danau yang dijuluki Danau Kembar yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah.

Tak Banyak yang Tahu
M.Natsir kecil dulunya lahir di sebuah rumah yang besar yang terletak di dekat Jembatan Berukir, Alahan Panjang 17 Juli 1908. Saat menetap di Alahan Panjang karena menjadi pegawai Belanda di pemerintahan setingkat kecamatan di Alahan Panjang, Ayah M. Natsir, Mohamad Idris Sutan Saripado tinggal di rumah seorang saudagar kopi kaya di Alahan Panjang, Sutan Rajo Ameh.

"Mungkin kakek saya Sutan Rajo Ameh bersahabat dengan Mohamad Idris Sutan Saripad, Bapaknya Pak Natsir sehingga mereka diajak tinggal di rumah itu," kata Hamdi, cucu Sutan Rajo Ameh yang juga lahir di rumah itu.

Di rumah besar itu, Keluarga Sutan Rajo Ameh bersama istrinya Siti Zahara dan anak-anaknya tinggal di bagian kiri rumah. Sementara ayah Mohammad Idrus Saripado dan Istrinya Khadijah bersama anaknya menempati rumah bagian kanan.

Menurut Hamdi, rumah itu berhalaman luas, di sisi kirinya mengalir Batang Hiliran Gumanti (batang artnya sungai) yang berair jernih. Airnya berasal dari Danau Diatas dan mengalir terus ke hilir. Di atas sungai itu ada jembatan dari kayu jati yang penuh ukiran yang dibangun Belanda.

"Ketika itu tempat paling indah di Alahan Panjang mungkin di rumah kakek saya, di sampingnya ada sungai dengan jembatan yang berukir dan di depannya ada lapangan yang hijau ditumbuhi rumput dan dipagari pohon pinang," kata Hamdi.

Di belakang rumah kelahiran Natsir saat ada kolam ikan dan taman kecil yang tetata apik, karena Sutan Rajo Ameh amat suka menata taman dan duduk di kursi malas menghadap ke kolam ikan.

Di sebelah kolam ikan ada sungai Batang Hiliran Gumanti yang sebagian kecil airnya dialirkan ke kincir air untuk menumbuk padi. Itu adalah satu-satunya kincir air penumbuk padi yang ada di Alahan Panjang semasa itu. Sayangnya rumah kelahiran Natsir terbakar saat agresi Belanda pada 1947 tinggal di Indonesia. Rumah besar itu terbakar kena bom.

"Kata almarhum nenek saya Siti Zahara, waktu kecil ini Pak Natsir orangnya lugu, jujur dan punya sifat yang sejak kecil sudah kelihatan akan jadi pemimpin, selain itu Natsir juga suka dengan segala hal yang rapi, merapikan kamar tidurnya, dan suka membantu mencuci piring," kata Hamdi.

Seperti umumnya anak lelaki Minang pada masa itu, Natsir kecil juga ke surau, belajar mengaji. urau itu tidak jauh dari rumahnya, di depan lapangan. Namanya Surau Dagang yang didirikan oleh pedagang dari nagari-nagari di sekitar Alahan Panjang. Pedagang ini berjualan tiap pekan di Pasar Perserikatan Alahan Panjang tak jauh dari surau itu.
Menurut Hamdi, surau itu dulunya dari kayu, lantainya bambu dan atapnya dari daun rumbia, kini sudah berubah menjadi Masjid Al Wusta.

Dijaga Penjaga Buta
Tidak banyak yang tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang, karena orang-orang segenerasi dengan Natsir apalagi generasi di atas Natsir sudah tidak ada lagi. Apalagi Natsir di Alahan Panjang hanya pada masa sebelum masuk Sekolah Rakyat (SR) di Kota Solok.

Kini Alahan Panjang tidak banyak berubah. Lembah Gumanti berhawa dingin. Ladang sayuran dan kebun kopi masih terhampar luas, karena Alahan Panjnag termasuk sentra pemasok sayuran untuk Sumatera Barat dan Riau.

Namun tempat kelahiran Natsir agak berubah. Rumah kelahiran Natsir yang terbakar telah dibangun lagi pada 1957. Walaupun cukup besar tapi kalah luas dibandingkan rumah yang pernah ditempati Natsir.

Di samping kiri rumah masih mengalir Batang Hiliran Gumanti dengan airnya yang masih jernih, di atasnya ada jembatan namun tidak lagi jembatan kayu jati yang berukir, telah diganti jembatan beton, walaupun nama jalan di depan rumah itu tetap Jembatan Berukir.

Di dalam rumah masih ada satu set kursi rotan milik Sutan Rajo Ameh, semasa ayah Natsir tinggal di rumah itu, juga ada kursi malas dari kayu jati, serta lemari yang penuh peralatan dari kuningan, peninggalan zaman Natsir saat di rumah itu.

Kolam ikan di belakang rumah sudah tidak ada lagi, kincir air dibelakang rumah dekat rumpun bambu masih ada, namun tidak lagi digunakan. Di seberang jembatan berukir tidak ada lagi lapangan hijau yang luas yang dinaungi barisan pohon pinang. Lapangan itu telah berubah menjadi terminal bus dan angkutan umum, letaknya bersebelahan dengan pasar Alahan Panjang.

Rumah itu dijaga seorang penjaga buta, Zulfikar. Ia adalah kerabat si pemilik rumah Hamdi El Gumanti yang mewarisi rumah itu dari ibunya. Hamdi sendiri tinggal di Jakarta.

"Saya dititipi rumah ini karena ini rumah kelahiran Pak Natsir, karena yang punya merantau semua ke Jakarta, tetapi saya tidak banyak tahu tentang beliau," kata Zulfikar.

Ia sehari-hari bertugas memelihara rumah, menyapu, membersihkan halaman.

"Sudah banyak yang datang ke rumah ini, karena mereka ingin melihat rumahnya pak Natsir, pernah bupati, gubernur, beberapa menteri dan pernah pula orang dari Arab yang datang dan numpang sholat di rumah ini karena tahu tempat ini rumah kelahiran Pak Natsir," kata Zul.

Hamdi El Gumanti sang pemilik rumah mengatakan, tidak banyak lagi orang yang tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang.

"Yang tahu itu seangkatan nenek saya,dan itu tentu sudah meninggal semua, saya saja tahu cerita Natsir pernah di sana dari nenek , karena nenek saya umurnya sampai 103 tahun jadi saat saya SMA dan nenek tinggal di Jakarta bersama kami, di situlah beliau sering bercerita," kata Hamdi El Gumanti.

Masa kecil Natsir dihabiskan di berbagai tempat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai Kolonial Belanda. Setelah dari Alahan Panjang, Natsir sempat tinggal di Maninjau dan bersekolah hingga kelas dua. Kemudian pindah ke Padang, untuk bersekolah di HIS Adabiyah.

Tak lama berselang, dia pindah ke Solok. Dan ketika sang ayah pindah ke Makassar, Natsir kembali ke Padang tinggal bersama kakaknya. Di sana dia menamatkan pendidikan dasarnya sebelum akhirnya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onder­wijs (MULO) di Bandung.

Orang Maninjau
Di Danau Maninjua, jejak masa kecil Natsir juga kabur, orang lebih banyak mengenalnya sebagai sosok Natsir yang ikut memimpin perjuangan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).

Kedua orang tua Muhammad Natsir berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam. Namun tidak diketahui apakah Natsir kecil pernah ke Maninjau. Turunan pihak ibu Natsir memiliki ‘rumah gadang' di Maninjau. Letaknya di Kelok Satu, sekitar 200 meter dari tepian Danau Maninjau. Dari tempat itu, Danau Maninjau terlihat jelas.

Di jalan Kelok Satu itu beberapa rumah tua dari kayu masih berdiri salah satunya rumah Roslinar, 64 tahun, kemenakan jauh Natsir dari keturunan kakak dari ibu Natsir.

Rumah yang ditempati Roslinar bersebelahan dengan rumah yang disebut-sebut rumah Natsir.

Sebenarnya rumah Natsir itu adalah ‘rumah gadang' milik suku dari pihak perempuan keluarga ibu Natsir. Dulunya rumah itu rumah kayu, namun pada 1990 dibangun menjadi rumah beton dengan atap seng model bagonjong. Di halaman rumah ditutupi paving blok dan dipagar besi. Rumah bercat kuning itu disewakan untuk kost siswa.

"Saya tidak tahu persis apakah saat kecil Pak Natsir pernah singgah ke rumah ini, karena ayah dan ibu Pak Natsir kan memang tidak pernah tinggal di Maninjau, yang jelas itu adalah rumah keluarga ibunya Pak Natsir," kata Roslinar.

Di dalam rumah itu tidak ada selembar pun foto Nastir. Menurut Roslinar, karena pada masa PRRI semua foto Natsir dan keluarganya disembunyikan dalam plastik sehingga rusak.

"Saat PRRI dulu banyak tentara yang setiap hari ke rumah ini dengan senjata terkokang menanyakan Pak Natsir, jadi seluruh foto-fotonya dan keluarganya kami simpan jauh-jauh di dalam plastik disembunyikan, akhirnya rusak," kata Roslinar.

Roslinar mengatakan Natsir pernah dua kali berkunjung ke rumah itu. Pertama semasa PRRI dan kedua pada 1980-an.

"Saat masa PRRI saya tidak terlalu ingat, karena masih kanak-kanak, tetapi saat 80-an lalu saya yang sibuk memasak dan jadi tuan rumah karena Pak Natsir datang dan berkumpul di rumah itu bersama sanak dan kemenakannya," kata Roslinar.

Ia ingat, Natsir banyak bercerita ringan dengan sanak keluarganya, juga nasehat agar bila ingin maju harus mengutamakan pendidikan.

"Pak Natsir tidak menginap, beliau pulang ke Padang, saat pulang saya ditinggali uang Rp150 ribu, katanya untuk belanja di rumah, itulah terakhir kalinya Pak Natsir berkunjung ke rumah ini," kata Roslinar.

Roslinar mengatakan, tidak tahu banyak tentang masa kecil Natsir. Ia adalah satu-satunya keluarga dari pihak ibu Natsir yang tinggal di Maninjau.
Sekitar 500 meter dari rumah Natsir kini berdiri sebuah perpustakaan yang dinamakan Perpustakaan Mohamad Natsir.

Perpustakaan ini didirikan 2005 lalu oleh Ikatan Perantau Maninjau di Jabodetabek.

Di dalam pustaka dengan luas 180 meter persegi itu cukup banyak koleksi buku. Di salah satu lemari terdapat 20-an buku karangam Natsir dan buku tentang Natsir yang disumbang keluarga M. Natsir untuk perpustakaan.

Selain itu juga ada buku-buku fiksi, sastra, buku anak-anak, dan majalah.
"Perpustakaan ini untuk semua umur, setiap hari paling sedikit 10 orang yang membaca di sini," kata Santi, salah seorang penjaga pustaka.

Ia mengatakan, perpustakaan ini memakai nama M. Natsir karena untuk mengenang tokoh asal Maninjau itu.

"Ini kan daerah asalnya Pak Natsir, walaupun beliau tidak lahir di sini, tetapi beliau orang sini," kata Santi.

Ia mengatakan, beberapa perantau asal Inggris tahun lalu pernah mengirimkan sumbangan buku-buku anak-anak satu kardus besar langsung dari Inggris. Selain itu mereka juga menyumbang satu perangkat komputer untuk perpustakaan itu.**

Sumber :
Mozaik Minang, "Jejak Masa Kecil M Natsir", http://www.padangkini.com/mozaik/single.php?id=3807

Iklan dari, oleh dan untuk Blogger